Cara Berpikir dalam Bahasa Inggris Tanpa Menerjemahkan: 5 Latihan Bertahap agar Otak Berhenti Nge-translate

seorang lelaki sedang berpikir dengan menopang dagu
Daftar Isi

Pernah merasa jeda bicaramu agak lama atau mendadak bingung memilih kata saat diajak mengobrol dalam bahasa Inggris?

Biar kamu paham betul akar masalahnya, coba kamu baca dulu ulasan mengenai kenapa mengerti bahasa Inggris tapi tidak bisa berbicara yang membahas hambatan bicara secara aktif.

Kondisi tersebut umumnya terjadi karena kamu belum membiasakan diri untuk berhenti menerjemahkan di kepala dan belum memulai think in English secara spontan.

Nah, supaya komunikasimu tidak lagi tersendat, yuk simak panduan cara berpikir dalam bahasa Inggris tanpa menerjemahkan sekaligus trik lancar berbicara tanpa menerjemahkan di kepala berikut ini!

CTA banner kursus speaking untuk tingkatkan skill

Kenapa Otak Cenderung Menerjemahkan Sebelum Bicara

Mengetahui proses pengolahan bahasa asing membantumu melihat bahwa jeda saat berbicara sangat berkaitan dengan proses pengambilan kosakata dan penyusunan ujaran, sehingga latihan dapat diarahkan untuk membuat respons bicaramu semakin otomatis.

Kelancaran Bukan Sekadar Banyaknya Kosakata yang Dihafal

Banyak orang mengira kelancaran bicara itu soal seberapa banyak kosakata yang berhasil dihafal. Padahal hasil riset justru menunjukkan hal yang berbeda.

Dilansir dari studi Frank Boers dkk. di jurnal Language Teaching Research, 32 mahasiswa jurusan Bahasa Inggris dibagi ke dalam dua kelompok selama 22 jam pengajaran.

Kelompok eksperimen yang berjumlah 17 orang dilatih untuk menyadari rangkaian kata siap pakai atau formulaic sequences, sementara 15 orang sisanya (kelompok kontrol) tetap diajar dengan pembagian grammar dan kosakata secara terpisah.

Setelah metode latihan selesai, dua penguji independen menilai kemampuan bicara seluruh peserta melalui wawancara. Hasilnya, kelompok eksperimen dinilai lebih mahir berbicara dibanding kelompok kontrol.

Semakin sering peserta menggunakan rangkaian kata siap pakai saat wawancara, semakin tinggi pula nilai kemampuan bicara yang mereka dapatkan dari penguji.

Artinya otak tidak bekerja dengan menumpuk kata satu per satu, melainkan dengan memakai paket frasa yang memang sering muncul bersamaan.

Inilah kenapa kamu bisa hafal ribuan kata tapi tetap tersendat saat harus berbicara.

Wajar Mengalami Jeda Jika Belum Terbiasa Mengingat Kosakata Secara Otomatis

Kalau kamu sering berhenti sejenak di tengah kalimat, itu bukan tanda kamu lambat berpikir. Riset menunjukkan jeda semacam itu memang lazim terjadi.

Dilansir dari studi Jasone Cenoz di ITL – International Journal of Applied Linguistics, jeda dan keraguan adalah fenomena yang sering muncul dalam produksi bahasa kedua, dengan besar-kecilnya sangat bervariasi antar individu.

Studi yang sama juga menemukan bahwa jeda biasanya muncul bersamaan dengan penanda keraguan lain, seperti pengulangan kata atau perbaikan kalimat.

Menariknya, jeda hening dan jeda terisi seperti “emm” atau “uh” bisa punya fungsi yang sama, yaitu memberi otak waktu menyusun ujaran berikutnya.

Penjelasan mengenai beban proses berpikir ini berasal dari studi Emily Felker dkk. di jurnal Applied Psycholinguistics. Mereka meneliti 25 penutur asli bahasa Belanda yang juga mahir berbahasa Inggris.

Hasilnya, makin berat proses menyusun isi pikiran, makin banyak jeda hening, jeda terisi, dan pemanjangan bunyi yang muncul saat berbicara.

Angkanya menunjukkan perbedaan yang signifikan, pada kondisi dasar tanpa penambahan beban, pemanjangan bunyi muncul pada 10,4 persen ujaran dalam bahasa kedua, sedangkan dalam bahasa pertama hanya 2,5 persen. Artinya, pemanjangan bunyi terjadi hampir empat kali lipat lebih sering dalam bahasa kedua saat otak sibuk menyusun kalimat.

Jadi saat otak sibuk memilih kata, jeda yang muncul itu justru bukti bahwa proses berpikirmu sedang berjalan.

Tes Mandiri: Rekam Jawaban dan Perhatikan Pola Jeda

Cara paling jujur mengukur kebiasaan ini adalah mendengarkan suaramu sendiri.

Ambil satu pertanyaan acak, jawab selama satu menit tanpa naskah, lalu rekam. Setelah itu dengarkan ulang rekamannya dengan santai.

Perhatikan tiga hal:

1. Di bagian mana kamu berhenti paling lama.

2. Kata apa yang berulang-ulang kamu pakai.

3. Kalimat mana yang kamu perbaiki sendiri di tengah jalan.

Karena jeda cenderung muncul berkelompok bersama penanda keraguan lain, polanya biasanya tidak tersebar rata di sepanjang jawabanmu.

Ulangi tes yang sama setiap dua minggu sekali. Yang kamu bandingkan bukan sudah sempurna atau belum, melainkan apakah durasi jedanya memendek.

5 Tahap agar Lebih Spontan dan Mulai Think in English

Membiasakan respons bicara yang lebih spontan dapat dilatih melalui rangkaian kebiasaan harian yang terarah, mulai dari penyebutan kosakata konkret hingga latihan interaksi langsung.

Level 1 — Object Naming: Melatih Kecepatan Mengakses Kosakata Bahasa Inggris

Tahap pertama paling ringan, bahkan bisa kamu lakukan sambil beraktivitas. Sebutkan nama benda di sekitarmu dalam bahasa Inggris, langsung tanpa jeda: chair, notebook, window, charger, mug.

Latihan sesederhana ini melatih jalur terpendek dari konsep ke kata, tanpa melewati bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Sebab produksi bahasa kedua dan proses menerjemahkan ternyata menempuh tahap konseptualisasi yang berbeda.

Dilansir dari studi Chuanhong Tang dkk. di jurnal Frontiers in Psychology, menyusun kalimat dalam bahasa asing maupun menerjemahkannya sama-sama menguras energi otak dibanding saat kita memakai bahasa sehari-hari.

Studi yang menganalisis 420 artikel editorial untuk tiap korpus itu bahkan menemukan produksi terjemahan justru paling terbatas secara kognitif, karena harus mengolah teks sumber lebih dulu sebelum menyusun ujaran.

Jadi ketika kamu menyebut “window” tanpa lewat “jendela”, kamu sedang melatih rute yang paling pendek dan paling murah bagi otak.

Kalau kamu ingin memperluas kebiasaan kecil ini ke aktivitas lain, kamu bisa membaca artikel tentang cara menerapkan bahasa Inggris dalam keseharian, cara yang bisa langsung kamu contek.

Level 2 — Self-Talk Terjadwal: Menarasikan Aktivitas Sederhana Sehari-hari

Setelah kosakata benda lancar, naikkan satu tingkat ke kalimat utuh. Narasikan apa yang sedang kamu lakukan saat itu juga, “I’m boiling water“, “I’m opening the laptop“, “I forgot to charge my phone“.

Latihan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, karena ada bukti kerja saraf di baliknya. Dilansir dari studi Rong Jiang dkk. di jurnal Brain Sciences, 64 mahasiswa pembelajar bahasa Inggris asal Tiongkok berbahasa ibu Mandarin diminta menyelesaikan tugas mendeskripsikan gambar.

Hasilnya, peserta yang diizinkan berbicara sendiri (private speech) mampu mengeluarkan kata jauh lebih banyak, yaitu rata-rata 305,7 kata.

Sebaliknya, ketika kebiasaan itu dilarang, jumlah kata yang mereka produksi turun menjadi 279,6 kata.

Yang lebih menarik lagi, hasil pemindaian otak terhadap 32 peserta menggunakan teknologi fNIRS (alat pemindai aktivitas otak yang aman dan tanpa rasa sakit) menunjukkan bahwa pola kerja otak saat berbicara sendiri sangat mirip dengan saat kita berbicara dalam hati (inner speech).

Artinya ngomong sendiri dalam bahasa Inggris itu bukan kebiasaan aneh, melainkan jembatan menuju kemampuan berpikir langsung dalam bahasa Inggris.

Level 3 — Shadowing dan Chunking: Membiasakan Ritme dan Rangkaian Kata

Tahap ketiga melatih dua hal sekaligus, yaitu ritme bicara dan paket frasa. Shadowing berarti menirukan rekaman suara penutur asli secara bersamaan seperti bayangan, nyaris tanpa jeda. Chunking berarti mengingat kelompok kata (frasa) utuh yang sering dipakai bersamaan, bukan menghafal kata satu per satu.

Dasar ilmiah untuk shadowing cukup kuat. Dilansir dari studi Hikaru Takeuchi dkk. di jurnal Brain Imaging and Behavior, peneliti membandingkan empat minggu latihan intensif antara kelompok yang berbicara dan kelompok yang hanya mendengarkan.

Hasilnya, kelompok yang aktif berlatih berbicara dan menirukan suara penutur asli menunjukkan peningkatan nyata pada daya ingat kerja (working memory, yaitu kemampuan otak menyimpan dan mengolah informasi dengan cepat). Hal ini terlihat dari makin cepatnya waktu reaksi mereka saat menyelesaikan tugas pengujian memori (tes n-back untuk mengukur daya ingat otak).

Hasil pemindaian otak peserta juga menunjukkan adanya perubahan pada bagian otak kecil (cerebellum) sebelah kiri. Bagian ini berperan penting dalam mengatur pengulangan suara di dalam kepala kita saat kita menirukan atau mengingat ucapan.

Sebagai gambaran seberapa berat latihannya, kecepatan shadowing peserta naik dari 0,92 kali menjadi 1,59 kali kecepatan audio asli selama program berjalan.

Satu catatan jujur dari studi yang sama: latihan ini tidak otomatis menaikkan skor listening dan reading bahasa Inggris peserta. Manfaatnya lebih dulu terasa pada kapasitas memori kerja.

Untuk sisi chunking, temuan studi Boers dkk. di awal tadi berlaku di sini. Kelompok yang dilatih menyadari rangkaian kata siap pakai dinilai lebih mahir berbicara oleh juri independen.

Level 4 — Think-Aloud: Menyampaikan Opini Singkat tentang Topik Tertentu

Kalau menarasikan aktivitas sudah terasa lancar, coba naik ke level berpendapat.

Pilih topik ringan dan bicaralah selama satu menit: kenapa kamu menyukai film tertentu, atau kenapa bekerja dari rumah terasa lebih nyaman.

Bedanya dengan Level 2, di sini kamu tidak lagi mendeskripsikan sesuatu yang terlihat, melainkan menyusun argumen sendiri.

Di tahap inilah kebiasaan bicara sendiri (private speech) bekerja pada tingkat yang lebih tinggi, dan hal itu terlihat jelas dari cara kerja otaknya.

Masih dari studi Jiang dkk., pada peserta dengan kemahiran tinggi, private speech memperkuat konektivitas antara jaringan bahasa dan jaringan pengaturan pikiran atau thought-regulation network.

Pada peserta dengan kemahiran rendah, konektivitasnya masih terbatas di area yang berhubungan dengan bahasa saja.

Jadi fungsi self-talk memang berkembang seiring kemahiranmu, dari sekadar membantu memilih kata menjadi membantu menata pikiran.

Level 5 — Micro-Conversation (Percakapan Singkat): Mempertahankan Alur Percakapan Bersama Teman

Tahap terakhir adalah ngobrol singkat dengan partner, cukup lima sampai sepuluh menit. Fokusnya bukan benar atau salah, tapi menjaga alur percakapan tetap berjalan sampai selesai.

Kalau kamu butuh waktu berpikir, ambil jeda sebentar. Yang perlu dihindari adalah berhenti total hanya karena satu kesalahan kecil.

Percakapan dua arah memang punya manfaat besar yang sudah terbukti lewat berbagai penelitian. Dilansir dari tinjauan Shawn Loewen dan Masatoshi Sato di jurnal Language Teaching, rangkuman dari 28 penelitian interaksi menemukan pengaruh yang sangat terasa bagi orang-orang yang aktif berinteraksi.

Yang menarik, efek tersebut justru terlihat lebih jelas pada tes yang dilakukan beberapa waktu setelah perlakuan, bukan pada tes langsung.

Tinjauan itu juga mencatat bahwa keberanian berbicara dan mengeluarkan pendapat secara langsung adalah kunci utama agar bahasa Inggris bisa terucap dengan lancar dan otomatis.

4 Hal yang Perlu Diwaspadai agar Latihan Berbicara Lebih Efektif

Empat kebiasaan berikut sering muncul tanpa disadari dan justru bisa menghambat kemajuanmu, padahal niat awalnya baik. Dengan mengenali keempat hal ini, proses latihanmu akan terasa jauh lebih ringan dan tidak terasa seperti beban atau tugas berat yang membosankan.

  • Terlalu sibuk mengecek tata bahasa sebelum bicara: Terus-menerus memikirkan rumus kalimat di kepala saat mau berbicara justru membuat otak bekerja terlalu keras dan membuatmu ragu-ragu. Penelitian dari Felker dkk. menunjukkan bahwa kemampuan otak kita terbagi antara memilih isi pikiran dan menyusun kata-kata saat berbicara.
  • Memaksa memakai kata-kata yang rumit: Kalau belum terbiasa dengan istilah yang sulit, gunakan saja kata-kata sederhana yang sudah kamu kuasai. Menurut temuan Boers dkk., kelancaran bicara lebih ditentukan oleh seberapa sering kita memakai gabungan kata yang umum digunakan sehari-hari, bukan seberapa canggih kosakata yang kita pakai.
  • Takut salah sampai tidak mau berlatih: Menunda berbicara karena takut keliru membuat lidah dan pikiranmu kehilangan kesempatan untuk terbiasa. Menurut kajian Loewen dan Sato, mengobrol dengan sesama pembelajar justru terasa lebih santai dan minim tekanan dibandingkan belajar langsung di depan pengajar.
  • Hanya berlatih sendiri tanpa pernah mengobrol langsung: Berlatih sendiri memang bagus untuk melatih kelancaran awal, tetapi kamu tetap butuh percakapan dua arah agar terbiasa merespons pertanyaan dan tanggapan spontan yang tidak bisa diprediksi saat berlatih sendirian.

Cara Mengukur Progress Saat Latihan Speaking English

Biar kamu tidak mengira-ngira sendiri, kamu bisa memakai tiga tahapan berikut sebagai patokan. Yang perlu kamu perhatikan bukan soal sudah lancar total atau belum, melainkan bagaimana kendala yang kamu rasakan perlahan mulai bergeser.

Kalau kamu ingin tahu gambaran target waktu yang lebih jelas, ada ulasan khusus mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk lancar bahasa Inggris yang bisa kamu jadikan acuan.

Tahap LatihanHal yang DirasakanTanda Kemajuan
Fase AwalMasih sering jeda agak lama untuk mengingat kata dan menyusun kalimat sebelum ngomong.Sudah bisa menjawab pertanyaan sederhana sehari-hari dengan kalimat singkat.
Fase BerkembangMerespons topik santai terasa lebih ringan, walau topik yang berat atau baru masih perlu waktu berpikir.Jeda diamnya makin berkurang dan kamu mulai terbiasa merangkai beberapa kalimat sekaligus.
Fase Lebih SpontanPemilihan kata dan ungkapan mengalir lebih santai untuk menjaga obrolan tetap nyambung.Bisa menyampaikan pendapat pribadi dan langsung membetulkan kalimat sendiri tanpa bikin obrolan terhenti.
CTA banner kursus speaking untuk tingkatkan skill

Mau Latihan Refleks Speaking Lebih Interaktif? Yuk, Asah Kemampuanmu bareng Cetta English!

Supaya kamu nggak terus-terusan menerjemahkan di kepala, kuncinya adalah latihan pelan-pelan dan cari tempat yang nyaman buat langsung praktik ngobrol.

Ikut kelas interaktif bareng tutor yang berpengalaman bakal bikin kamu makin percaya diri dan terbiasa merespons obrolan secara alami dalam berbagai situasi harian.

Agar belajarmu makin terarah dan pas sama tujuanmu, Cetta English punya beberapa pilihan program yang fleksibel:

  • Speaking: Kelas santai dan seru untuk melatih rasa percaya diri saat mengutarakan ide, sekaligus membiasakan diri ngobrol sehari-hari tanpa merasa canggung.
  • Intensive Speaking: Program intensif dengan porsi latihan lebih banyak buat kamu yang ingin mengasah refleks bicara dan lancar mengobrol dalam waktu yang relatif singkat.
  • IELTS Preparation: Bimbingan lengkap untuk menyusun strategi menghadapi tes IELTS, termasuk latihan speaking terstruktur demi meraih skor impianmu.
  • TOEFL Preparation: Persiapan intensif untuk menaklukkan setiap bagian tes TOEFL dengan teknik pengerjaan yang praktis dan teruji.

Membiasakan diri ngobrol langsung di lingkungan yang ramah dan suportif bakal bikin refleks bicaramu makin terasah, jadi kamu nggak perlu pusing lagi memikirkan terjemahan kata demi kata.

Yuk, amankan tempatmu sekarang dan konsultasikan target belajarmu secara gratis hari ini di Cetta English!

Daftar Isi
Artikel Terbaru
dua orang sedang bercakap cakap dengan bendera UK di tengahnya
Kosakata Bahasa Inggris untuk Industri IT, Marketing, dan Finance yang Wajib Dikuasai Profesional

Sering merasa kikuk atau mendadak bingung saat rekan…

seorang perempuan bermain gadget
Cara Menulis LinkedIn Summary dalam Bahasa Inggris yang Menarik Recruiter

Sering merasa profil LinkedIn sepi dari lirikan recruiter…

seseorang sedang melaksanakan interview
Cara Menjawab Tell Me About Yourself Saat Interview Bahasa Inggris: Rumus Present-Past-Future dan Contoh Jawaban

Mendengar pertanyaan pembuka “So, please tell me about…